game theory dan investasi saham

memprediksi langkah massa di tengah kepanikan pasar

game theory dan investasi saham
I

Pernahkah kita menatap layar ponsel, melihat portofolio investasi kita berubah menjadi lautan merah, lalu merasakan detak jantung yang tiba-tiba berpacu lebih cepat? Angka-angka minus itu seolah berteriak menyuruh kita menekan tombol jual detik itu juga. Di titik ini, rasanya kita bukan sedang berinvestasi, melainkan sedang terjebak di dalam gedung yang terbakar. Kita melihat semua orang berlarian menuju pintu keluar, dan insting paling purba di dalam kepala kita berbisik keras: ikut lari sekarang, atau hancur. Menariknya, perasaan mencekam ini bukanlah soal kelemahan mental kita sebagai investor. Ini murni reaksi biologi. Tapi, di sinilah letak garis tipis antara investor yang berakhir menyesal dan investor yang keluar sebagai pemenang. Kuncinya bukan pada seberapa cepat kita berlari, melainkan seberapa jeli kita membaca isi kepala orang-orang yang sedang berlarian tersebut.

II

Mari kita mundur sejenak untuk membedah apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak kita. Saat kepanikan massal melanda pasar saham, bagian otak kita yang bernama amygdala mengambil alih kendali. Ia membajak logika dan memicu respons fight-or-flight. Masalahnya, pasar saham bukanlah harimau sabertooth yang sedang mengejar kita di padang sabana jutaan tahun lalu. Pasar saham hanyalah sekumpulan manusia—termasuk saya dan teman-teman—yang sedang mengambil keputusan finansial di waktu yang bersamaan. Artinya, jika kita ingin memprediksi arah pasar, melihat grafik dan laporan keuangan saja tidak pernah cukup. Kita harus masuk ke ranah sains yang lebih dalam, sebuah disiplin ilmu matematika dan psikologi yang dirancang khusus untuk membaca strategi lawan: Game Theory atau teori permainan. Di dunia investasi, saham bukanlah sekadar kepemilikan bisnis, melainkan sebuah permainan tebak-tebakan raksasa tentang apa yang akan dilakukan oleh pemain lain.

III

Untuk memahami cara kerja Game Theory di pasar modal, kita perlu meminjam pemikiran jenius dari seorang ekonom legendaris bernama John Maynard Keynes. Di tahun 1930-an, Keynes merumuskan sebuah konsep yang ia sebut sebagai Keynesian Beauty Contest. Bayangkan sebuah kontes kecantikan yang diadakan oleh koran lokal. Aturan mainnya begini: pembaca diminta memilih enam wajah paling cantik dari seratus foto. Siapa pun yang pilihannya paling mendekati pilihan mayoritas pembaca lain, akan mendapat hadiah uang. Jika kita ikut lomba ini, apakah kita akan memilih wajah yang menurut kita paling cantik? Tentu tidak. Jika kita cerdas, kita akan memilih wajah yang menurut kita, akan dipilih oleh orang lain. Tapi tunggu dulu. Bagaimana jika orang lain juga sama cerdasnya dengan kita? Mereka pasti juga sedang menebak apa yang akan ditebak oleh orang lain. Lalu, apa hubungannya permainan tebak wajah ini dengan portofolio saham kita yang sedang berdarah-darah?

IV

Di sinilah rahasia terbesarnya terungkap. Pasar saham yang sedang panik adalah versi ekstrem dari Keynesian Beauty Contest. Saat krisis tiba—entah karena resesi global, pandemi, atau sekadar rumor—orang-orang tidak lagi menjual saham karena perusahaannya tiba-tiba bangkrut. Mayoritas orang menjual saham hanya karena mereka takut orang lain akan menjual lebih dulu. Ini adalah efek domino psikologis. Investor pemula berpikir di Level 1: "Berita buruk, saya harus jual." Investor moderat berpikir di Level 2: "Berita buruk, orang-orang pasti akan jual, jadi saya harus jual duluan." Namun, investor yang benar-benar memahami Game Theory akan bermain di Level 3. Mereka tahu persis bahwa kepanikan massa selalu tidak rasional dan berlebihan. Jadi, alih-alih ikut berdesakan di pintu keluar, mereka berdiri di luar pintu sambil membawa keranjang, menampung saham-saham perusahaan hebat yang dilempar keluar dengan harga diskon oleh kerumunan yang sedang kesetanan. Mereka tidak memprediksi harga saham, mereka memprediksi batas kepanikan manusia.

V

Memang, secara teori ini terdengar jauh lebih mudah daripada praktiknya. Melawan arus saat semua orang di sekitar kita berteriak panik adalah salah satu hal paling sulit untuk dilakukan oleh otak manusia yang sangat haus akan konformitas sosial. Sangat wajar jika kita merasa takut. Namun, menyadari bahwa ketakutan itu adalah sebuah pola yang bisa diukur secara ilmiah memberi kita sebuah kekuatan baru. Mulai sekarang, setiap kali kita melihat pasar runtuh dan berita menyebarkan teror, mari ambil napas panjang. Ingatkan diri kita bahwa di balik layar merah itu, hanya ada jutaan manusia lain yang sedang memainkan Game Theory dengan kikuk. Kita tidak perlu menjadi yang paling jenius secara matematika untuk menang di pasar saham. Kita hanya perlu sedikit lebih tenang dari kerumunan, menahan diri untuk tidak ikut-ikutan menekan tombol jual karena panik, dan mulai berpikir satu langkah di depan ketakutan mereka. Karena pada akhirnya, keuntungan terbesar di pasar modal selalu berpindah dari tangan mereka yang bereaksi, ke tangan mereka yang mengobservasi.